<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:EN-GB;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:17.0pt; font-family:”Courier New”; mso-font-kerning:0pt; mso-fareast-language:EN-GB;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 96.4pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Dimuat di Sumeks Minggu 9 Nopember 2008
Eksistensi DKSS dan Gubernur Baru
Oleh : Tarech Rasyid
Penulis adalah peminat seni-budaya
dan Koordinator Sekolah Demokrasi
Membaca tulisan Imron Supriyadi, cerpenis dan pekerja teater, di harian Sumatera Ekspress, 12 Oktober 2008, setidaknya berhasil melecut saya untuk nimbrung dalam “dialog kebudayaan”, atau sekedar sharing pemikiran mengenai eksistensi Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS). Sesungguhnya, saya sudah cukup lama meninggalkan aktivitas dari gerakan kebudayaan (gerakan kesenian) di Sumsel, dan lebih memfokuskan diri pada Gerakan Sosial (Baru). Meskipun demikian, kadang-kadang juga diharapkan kawan-kawan seniman agar saya kembali menggerakkan kesenian dan kebudayaan daerah.
Kenapa? Karena saya malas menyaksikan perilaku beberapa seniman dan Ketua DKSS, baik Prof Dr Amran Halim terlebih lagi Djohan Hanafiah yang kurang memahami mengenai filsafat seni dan filsafat kebudayaan. Karena kalau saya terlibat dalam dialog, itu berarti melibatkan diri dalam dunia ketidakpahaman mereka, sehingga dapat dituduh sebagai “orang asing” (strangers) seperti dalam novel Albert Camus. Dan, saya tidak akan menganggap mereka sebagai “orang lain” (the others) sebagai “neraka” seperti diyakini Jean Paul Sartre.
Yang jelas, kedua mantan ketua DKSS itu tidak meninggalkan jejak rekam pemikiran mengenai arah kesenian dan kebudayaan Sumsel dalam konstelasi kebudayaan (kesenian) nasional maupun internasional. Apalagi memberikan pemikiran yang mampu menggugah inspirasi seniman muda. Realitas kebudayaan seperti ini adalah iklim berkesenian (berkebudayaan) sontoloyo meminjam bahasa Presiden Soekarno.
Disamping itu, kedua mantan ketua DKSS itu sama sekali tidak memiliki “keberanian moral” (moral courage) sehingga terkesan “menghamba” atau “menyembah” kepada kekuasaan untuk tidak mengatakan berjiwa feodal. Ironisnya, sikap seperti itu diamini para seniman dan birokrat. Tentu saja, pada dasarnya, mereka pun berjiwa feodal untuk tidak disebut sebagai pencari “rai dan lokak”. Perilaku tersebut memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap esensi dari gerakan kebudayaan (kesenian).
Dalam konteks itu pula tulisan Imron Supriyadi menjadi lebih bermakna. Benar bahwa ideologi itu penting kalau melihat DKSS sebagai organisasi kebudayaan (kesenian). Sebab, antara ideologi dan organisasi itu tak ubahnya seperti tubuh dan jiwa kita. Jiwa DKSS itu mestinya adalah “ideologi kebudayaan” (ideologi kesenian) atau filsafat kebudayaan (filsafat seni) yang telah dirumuskan.
Celakanya, DKSS yang pernah dikomandoi Amran Halim dan Djohan Hanafiah tidak memiliki ideologi. Karena itu, DKSS tak ubahnya seperti kapal yang tidak memiliki kompas, terombang-ambing dan tidak memiliki sikap kebudayaan dan keberanian moral. Tidaklah mengherankan bilamana semua pengurus DKSS di masa rezim Soeharto mengidap penyakit “sakit gigi” ketika berhadapan dengan tekanan penyeragaman kebudayaan daripada rezim Soeharto.
Sangat bertolak belakang dengan kalangan seniman dan aktivis kebudayaan muda, justru mereka mampu mempelopori munculnya Gerakan Social Baru di Sumatera Selatan. Sebab, kala itu mahasiswa di Sumsel masih bisu, seniman dan aktivis kebudayaanlah yang bertindak dan berteriak di jalanan menuntut keadilan ekonomi, hukum, politik, dan budaya.
Konflik DKSS
Konflik seniman dan aktivis kebudayawan dengan seniman tua dan bu(d)ayawan tua muncul sejak berdirinya DKSS. Saya selaku penggagas dan penggerak berdirinya DKSS memiliki kepentingan untuk mendorong munculnya gerakan kebudayaan (baca: kesenian) secara formal. Sebab, secara non-formal telah dilakukan oleh Kelompok Studi Kebudayaan Kali Musi (KSKKM) yang menggagas sastra non-blok, kemudian berkembang pula gagasan membangun sastra gerakan. Sedangkan di bidang teater, berkembang konsep “pembunuhan sutradara” yang meminjam pemikiran posmo-dernisme.
Selain itu, saya pun memiliki agenda agar DKSS dapat menjadi organisasi formal yang mampu menjadi dinamisator untuk kemajuan kebudayaan lokal, juga sebagai katalisator dari derasnya arus penyeragaman budaya dan invansi kebuadayaan dari negara asing terhadap kebudayaan lokal.
Berangkat dari misi itu, saya merangkul sejumlah seniman dan menggandeng sejumlah tokoh birokrasi pada tahun 1995. Ada dua kali pertemuan yang difasilitasi Direktur TVRI Palembang yang antara lain dihadiri almarhum B.Yass (sastrawan angkatan 66), Anwar Putra Bayu (penyair), Efvan Fadjrullah (teater), Musnadi (wartawan RCTI), Dimas Agus Pelaz (penyair), JJ Polong (teater), Nurhasan (teater), Ismail Djalili (film), Djohan Hanafiah dan lain-lain.
Dari dua kali pertemuan terbentuklah Badan Pekerja Dewan Kesenian Palembang (BPDKP), dan Tarech Rasyid dipercaya sebagai koordinatornya. Kata “Palembang” di belakang kata Dewan Kesenian diambil berdasarkan saran sastrawan angkatan 66, B. Yass, karena kata Palembang sudah dikenal lebih luas hingga ke manca negara, juga mengandung nilai-nilai kultural dan sejarah yang mendalam.
Namun, kemudian muncul Dewan Kesenian Sumsel (DKSS) yang dipimpin oleh Prof Dr Amran Halim yang dideklarasikan di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel tanpa membubarkan BP DKP. B. Yass kecewa dengan munculnya DKSS. Kekecewaan itu disebabkan BP DKP yang ikut didirikannya diabaikan. Dia pun menyesalkan beberapa penggagas DKP tidak berada di pengurusan DKSS pimpinan Amran Halim. Tetapi, saya tegaskan kepada sastrawan angkatan 66 itu akan mendirikan DKSS tandingan. Inilah awal konflik DKSS yang berkepanjangan sebagaimana dikemukakan oleh Imron Supriyadi. Pendiri DKSS tandingan itu adalah saya, Anwar Putra Bayu, Taufik Wijaya, Ucup Akar, Febri, Darto, dan lain-lain.
Kemunculan DKSS yang dipaksakan itu dikarenakan dua faktor, yaitu; Pertama, keberadaan BP DKP yang dikoordinir oleh Tarech Rasyid dianggap berbahaya karena telah melahirkan dua nomor buletin PRADEKA yang menyertai pembentukan DKP. Di dalam buletin PRADEKA itu terdapat Teks Proklamasi “Indonesia Emas” yang ditulis oleh Tarech Rasyid dan Anwar Putra Bayu. Teks Proklamasi itu sarat dengan kecaman terhadap praktik-praktik yang dilakukan rezim otoritarianisme di bawah kepemimpinan Soeharto, juga terdapat “iklan mbeling” yang menyoroti budaya korupsi di daerah Sumsel, termasuk sajak-sajak yang mengkritik budaya militerisme di Indonesia. Buletin yang dikelola Tarech Rasyid dan Anwar Putra Bayu ini kemudian diberedel Dinas Penerangan Provinsi Sumsel.
Kedua, untuk mengamankan secara politik maka “orang-orang vokal” yang menakhodai pengelola buletin PRADEKA yang juga menggagas DKSS itu digusur. Nama-nama mereka tidak tercantum dalam SK Gubernur Ramli Hasan Basri. Ironisnya SK Gubernur Sumsel itu mengabaikan keberadaan BP DKP. Orang seperti Djohan Hanafiah, Ismail Djalili, Nurhasan dan lain lain, seyogianya berani mengemukakan fakta sejarah bahwa ada BP DKP kepada gubernur Sumsel maupun Amran Halim, yang memang tidak terlibat dalam rapat-rapat. Sedangkan para seniman dan birokrat yang terlibat dalam kepengurusan DKSS justru berwatak seperti Yudas.
Yang tak dapat dipungkiri bahwa badan tersebut mendapat mandat dari rapat untuk mempersiapkan kelahiran DKP. SK Gubernur Ramli Hasan Basri tidaklah otomatis meniadakan eksistensi BP DKP. Lantaran sibuk dengan agenda besar reformasi total, maka seniman dan aktivis kebudayaan mengabaikan konflik DKSS. Mereka lebih fokus pada Gerakan Sosial Baru menantang kekuasaan otoritarianisme yang diyakini pula sebagai akar dari kerusakan budaya di Indonesia. Namun, dalam perjalanan DKSS konflik pun berlanjut. Konflik yang keras terjadi dalam proses transisi kepemimpinan DKSS. Celakanya, Djohan Hanafiah mau kembali untuk kedua kalinya. Dia harus mempertanggungjawabkan uang rakyat yang dipakai DKSS. Kalau tidak dapat dipertanggungjawabkan maka ada indikasi korupsi. Saya kira, kita pantas melaporkan kepengurusan DKSS ke polisi, kejaksaan atau KPK.
Gubernur Baru
Kemenangan pasangan Alex-Eddy (ALDY) sebagai gubernur dan wakil gubernur baru Provinsi Sumsel periode 2008 – 2013, tentu saja jauh dari kekhawatiran Imron Supriyadi. Sebab, ALDY tidak akan menyirami bensin pada wilayah konflik DKSS. Justru sebaliknya, saya menduga, ALDY akan memfasilitasi untuk mengubah energi-konflik-tak-terkelola menjadi energi-konflik-terkelola guna menciptakan “ruh” dialektika dalam melakukan perubahan kebudayaan di tingkat lokal. Dalam konteks ini, tegasnya ALDY tidak akan mencampuri Musdalub DKSS, justru senimanlah yang harus berdaulat dalam proses transisi kepemimpinan DKSS. Karena itu, Rahman Zeth tidak boleh melakukan tindakan apa-apa, kecuali mempersiapkan panitia Musdalub DKSS. Itu saja mandatnya. Jika melebihi mandatnya maka akan melahirkan resistensi berkepanjangan.
Yang jelas bahwa secara eksplisit sikap ALDY untuk meraih kursi gubernur Sumsel adalah untuk melakukan perubahan berbagai bidang, termasuk bidang kesenian dan kebudayaan. Hal ini tercermin dari pemikirannya ketika berdialog dengan seniman dan budayawan di Hotel Aston. Juga tampak bahwa pemikiran ALDY mengenai perubahan kebudayaan daerah itu dipertegas kembali di dalam visi dan misinya yang telah dipaparkan di hadapan wakil rakyat Sumsel.
Di dalam visi dan misinya, ALDY akan melakukan berbagai perubahan di Sumsel, termasuk perubahan di bidang kesenian dan kebudayaan, melalui strategi revitalisasi, refungsionalisasi, dan reparadigmatik. Dengan ketiga strategi ini diharapkan terjadi perubahan mendasar termasuk perubahan paradigma dalam mengembangkan seni-budaya yang bertolak dari nilai-nilai lokal (seperti nilai-nilai yang terdapat di dalam naskah Simboer Tjahaja).
Dalam konteks ini, tentu saja, ALDY membutuhkan mitra kerja kebudayaan yang mampu berpartisipasi dalam membangun kebudayaan lokal sebagai pemberi inspirasi, juga sebagai identitas kultural wong Sumsel. Nah, sekarang berpulang kepada seniman dan budayawan daerah. Apakah mampu bermitra dengan gubernur baru guna melakukan perubahan kebudayaan. Sebaliknya, bila gubernur baru mengabaikan janji-janjinya di dalam kampanye, atau sebagaimana dikhawatirkan Imron Supriyadi bahwa gubernur baru tak ubahnya seperti gubernur-gubernur sebelumnnya dalam menyikapi masalah DKSS, maka saya siap bersama seniman dan budayawan melakukan oposisi permanen, seperti Musa ketika menentang Firaun, demi kemajuan kebudayaan (kesenian) lokal!



